MERCURE, UNIFAH, DAN PRANATA

MERCURE, UNIFAH, DAN PRANATA
oleh :Dimasmul Prajekan

Ibarat burung merak yang sedang memperagakan bulu – bulu indahnya. Itulah barangkali perlambang yang bisa disematkan kepada Sang Ketua Umum PB PGRI,Dr.Unifah Rasyidi,ketika tampil semalam saat memberikan sambutan pada pembukaan Rakorpimprop PGRI Jawa Timur diHotel Mercure, 28 April 2017.

Betapa data dan fakta lapangan di kupas tuntas seperti nasib guru honorer, kekurangan guru, mekanisme pencairan TPP, dan penyederhanaan administrasi guru,dihadapan peserta Rakorpimprop.

Gaya khas retorika Sang Srikandi pergerakan dalam sambutannya semakin menemukan klimaksnya saat berbicara tentang kusutnya dunia pendidikan Indonesia,diungkap dihadapan Dirjen GTK, Sumarna Surapranata.

Bunda Unifah,benar benar tampil merepreseentasikan kegalauan dan kegundahan jutaan guru Indonesia. Ibarat uneg – uneg yang berakumulasi demikian lama, menemukan ruang untuk disalurkan. Sebab, Mendikbud yang berhalangan hadir, dan diwakili Dirjen GTK, Sumarna Suraparnata, sebagai forum yang sangat tepat. Bagi warga PGRI, tentu sangat paham siapa dan bagaimana Pak Pranata. Selama ini Sang Dirjen memang dianggap sering melontarkan yang terkesan menyusahkan guru dan membuat kesal anggota PGRI.

Rakorpimprop kali ini merupakan moment yang sangat romatis, mengingat baru kali ini mempertemukan Sang Ketua Umum PGRI dengan Sang Dirjen, Ibarat dua kutub yang berbeda, pemikiran Bunda memang sangat berseberangan dengan Pak Pranata. Disinilah dua kutub ekstrim itu dipertemukan,dirajut, dan disinergikan. Bunda yang tampil lebih egalitarian, membuka diri dan bersedia duduka bersama dengan pemerintah untuk memecahkan kebuntuan berbagai persoalan pendidikan.

Sumarna Surapranata yang selama.ini banyak menunjukkan sikap kontroversial terhadap PGRI, tadi malam tampil lebih hati hati dan mencoba menghibur para peserta konferensi.dan banyak melakukan pembelaan terhadapa realitas terkini dunia pendidikan Indonesia. Bayangkan, ketika Bunda Unifah menodongkan masalah rumitnya kenaikan pangkat guru, Sang Dirjen menepisnya bahwa Permen PAN 16/2009 adalah warisan para pendahulunya.
Ironi memang,pada satu sisi Pranata kurang ‘ngeh’ dengan persyaratan menyusun karya tulis ilmiah bagi guru yang mau mengajukan kenaikan pangkat, tapi pada saat tyang bersamaan kerap membikin statement yang menyusahkan guru.

Jika semua yang disampaikan Sang Dirjen GTK iti benar, tentu angin segar akan lebih bertiup di dunia pendidikan, lebih berpihak kepada guru.
Semoga semua itu bukan isapan jempol semata, lain di depan lain belakang, tapi pemerintah benar benar ikhlas menyederhanakan seribu satu persoalan.yang terus menimpa guru.Tapi bagaimanapun suasananya, perang urat syaraf antara PGRI( Unifah) dan pemerintah( Pranata),menemukan titik temu dan bisa merajut dua pemikiran yang berbeda menuju pendidikan Indonesia yang lebih berkualitas. Tidak saling membenturkan antara PGRI dan Pemerintah. Hotel Mercure semoga menjadi awal merajut kebersamaan yang sesungguhnya.
Semoga!!!

Hotel Mercure, 29 April 2017