PGRI Berjuang Dengan Moral Intelektual

Oleh : Ali Fatikin, M.Pd., M.M. – Ketua PGRI Kabupaten Bojonegoro

Jati diri PGRI adalah organisasi profesi, perjuangan, dan ketenagakerjaan. PGRI memimpikan terwujudnya guru yang profesional, sejahtera, bermartabat, dan terlindungi. Dan hanya guru profesional, sejahtera, bermartabat, dan terlindungi yang sanggup mengantarkan peserta didik ke tepian masa depannya. Untuk sampai pada impian tersebut, PGRI menyadari tidak mudah. Banyak jalan terjal harus dilalui, banyak onak dan duri harus dilampaui. Untuk sampai ke sana, dibutuhkan pemandu yang tidak hanya tahu, tapi faham medan yang sebenarnya. Medan juang PGRI kini, bukan era lima tahun yang lalu, apa lagi sepuluh tahun yang lalu. Semua telah berubah. Untuk itu “leader as our guider” should have a new strategy, since anything has already changed. Fortunately, our leader  has already realized deeply about it.

        Selaras dengan hal tersebut di atas di hadapan Pengurus PGRI Prov. , dan Kab/ Kota Jatim Sabtu, 19 Agustus 2017, Bunda Unifah mengingatkan dan menguatkan bahwa PGRI adalah kekuatan moral intelektual keilmuan. Nuansa intelektual harus mewarnai dinding-dinding perjuangan. Menyelesaikan masalah, menanggapi isue  bukan dengan membawa angin “kekerasan” lewat  jalan2, namun lewat dialog yang berbasis data ( data based driven). Sehingga perjuangan nampak lebih indah berestetika,  santun, komunikatif, dan scientific. Kita menang tapi tiada yang  tersakiti.

      Sekali lagi “the world has already changed”. Altar dan landscape perjuanganpun tidak seperti dulu lagi. Strategi perjuangan yang tepat harus dicari. Tidak bisa hanya andalkan hard skill, soft skill pun harus disertakan. 4 C nampaknya lebih pas tuk diterapkan dlm berjuang di abad ke- 21 ini, yaitu COLLABORATION, COMMUNICATION, CRITICAL THINKING, DAN CREATIVE THINKING.

     Semoga bermanfaat, salam PGRI dari Bojonegoro…..!