Wali Kota Surakarta Ingin SMPN 5 Surakarta Jadi Museum PGRI

 

Solo – Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo berencana memindahkan SMPN 5 Surakarta. Bangunan tersebut kemungkinan akan digunakan sebagai Museum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Ketua PGRI Surakarta, Sugiaryo, menilai rencana pembuatan Museum PGRI tidak salah. Sebab, Kota Solo memiliki sejarah yang kuat dalam pendirian PGRI.

“PGRI pertama dibentuk pada 25 November 1945 di Surakarta. Jadi sangat tepat kalau Museum PGRI didirikan di Solo,” kata dia saat berbincang dengan detikcom melalui telepon, Kamis (29/3/2018).

Untuk mengabadikan momen tersebut, dibangunlah tugu PGRI yang kini berada di halaman SMPN 10 yang satu kompleks dengan SMPN 3 dan SMPN 5 Surakarta. Tak ada keterangan yang menjelaskan tentang tugu itu.

Namun di bagian lainnya dapat ditemukan prasasti bertuliskan huruf Jawa. Isinya semboyan Ki Hajar Dewantara, yakni ‘Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani’.

Selain monumen itu, terdapat pula aula PGRI yang separuh berada di SMPN 3 dan separuhnya di SMPN 10. Kantor PGRI Surakarta pun berada di SMPN 10 Surakarta.

Gambar. Monumen PGRI Monumen PGRI

“Aula itu dulu digunakan sebagai tempat Kongres PGRI pertama, menyusun AD/ART, membentuk kepengurusan. Tahun 2007 baru diresmikan oleh Wapres Jusuf Kalla,” ujar dia.

Beberapa tokoh pendiri PGRI ialah Amin Singgih, RH Koesnan, Djajeng Sugianto dan Sukitro.

Mengenai museum, pihaknya mengaku pernah meminta Wali Kota Surakarta, FX Hadi Rudyatmo membangunkannya. Dia berharap museum tersebut dilengkapi perpustakaan dan pusat pengembangan budaya berbasis elektronik.

“Sama halnya dengan persatuan wartawan yang berdiri di Solo, makanya Monumen Pers ada di Solo. Kita ingin Museum PGRI juga ada di Solo,” ujarnya.

Soal pemilihan SMPN 5 Surakarta sebagai lokasi museum, dia mengaku belum mengetahuinya secara langsung. Dalam waktu dekat dia ingin bertemu dengan wali kota.

“Kalau dulu kami mengajukan di SMPN 3 Surakarta. Nanti kami sowan pak wali dulu,” tutupnya.

Sebelumnya, rencana pemindahan SMPN 5 Surakarta mendapatkan penolakan dari beberapa pihak, seperti Mangkunegaran. Sebab sejarahnya, satu kompleks SMPN 3, 5 dan 10 dahulunya merupakan sekolah putri yang didirikan Sri Mangkunegara VII.

Rudy menegaskan bahwa nantinya lahan itu tetap difungsikan untuk kepentingan publik.

“Tidak akan kami jual. Tetap digunakan untuk kepentingan umum, bisa untuk Museum PGRI. Guru itu harus dihormati lo. PGRI itu lahir sejak RI awal berdiri,” katanya.

Sumber: Detik